Tampilkan postingan dengan label BUMN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BUMN. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 Januari 2015

Menanti matinya Pertamina

Oleh Berlian Siagian


Menanti Matinya Dinosaurus

Dapatkah Pertamina selamat dalam bersaing bila perusahaan minyak asing masuk ke Indonesia tahun depan?
Pertamina lama tidak effisien dibiarkan. Campur tangan politik sangat banyak. 14 ribu karyawan Pertamina mengasilkan tidak sampai 50% produksi Chevron. Belum lagi beban pensiunan Pertamina yang tahun lalu mencapai 51 ribu orang lebih.

Semua ini akibat kesalahan kebijakan dana pensiun dan dana kesehatan sejak jaman Ibnu Sutowo.
Runtuhnya Pertamina sebentar lagi adalah akibat pembiaran dan perampokan perusahaan selama lebih 40 tahun. Mau meremajakan kilang saja tidak punya uang.
Mengenai tingginya cost recovery perusahaan minyak asing terjadi akibat lemahnya kontrol BKKA yang kemudian menjadi BP Migas dan akhir2 ini disebut SKK Migas. Kontrol memenuhi syarat prosedural tetapi lemah dari segi substansi pengendalian biaya yang sesungguhnya. Akibatnya perusahaan minyak asing leluasa membebankan biaya apa saja (transfer pricing tersembunyi) pada kegiatan perusahaan (minyak asing) di Indonesia. Pada saat minyak buminya hampir habis baru cost yang dikeluarkan fully recovered. Selanjutnya setelah sumur hampir kering barulah Indonesia melalui Pertamina mendapat pembagian hasil produksi 85%. Sebelum cost yang sengaja dibengkakkan itu fully recovered, Indonesia tidak dapat apa2, termasuk juga tidak mendapat penerimaan pajak perusahaan. Yang diterima pemerintah hanya pajak penghasilan pegawai yang bekerja diperusahaan minyakvasing itu.

Siapa yang menyusun kontrak dan bagaimana pengawasan biaya tidak menyentuh substansi; hanya bersifat prosedural saja.
Alih teknologi dari perusahaan minyak asing ke Paertamina tidak bagus. Karyawan Pertamina yang dipekerjajan di Mobil, ConocoPhillips, Chevron hanya merupakan arisan gaji besar saja. Bukan cerminan dari meritokrasi dan kurang menghasilkan alih teknologi.
Jadi kalau Pertamina sampai bubar, sulit kita hindari. Pertamina mirip dengan dinosaurus yang mati saat dunia mengalami zaman es.



Pertamina mati karena kebijakan yang jelek dan dikombinasi dengan perubahan posisi USA yang selama ini adalah Net Importer minyak bumi berubah sebentar lagi berubah menjadi net exporter akibat breakthrough teknologi yang dikembangkan di USA yang disebut Multi Directional Horizontal Drilling with Hydraulic Fracturing. Teknologi ini mampu meng extraksi crude oil dari lapisan Shale dengan biaya USD 40 per barrel, bahkan masih dapat turun lagi menjadi USD 30 per barrel dengan penyempurnaan teknologi.

Ini akan terjadi. Rosnet yang lebih efisien dari Pertamina saja megap2 dan nilai tukar Rubel dipasar dunia terhadap USD sudah hancur.
Sekarang yang harus difikirkan adalah menyusun kebijakan publik menghadapi kematian Dinosaurus Pertamina agar tidak terlalu menyakitkan.



 
Design by Jery Tampubolon | Bloggerized by Jery - Rhainhart Tampubolon | Indonesian Humanis